SAN FRANCISCO – Bos Tesla dan xAI, Elon Musk, kembali melontarkan prediksi berani mengenai masa depan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Dalam sesi wawancara terbaru di platform X (dahulu Twitter), Musk memprediksi bahwa AI akan memiliki kecerdasan yang melampaui manusia terpintar di dunia paling lambat pada akhir tahun depan atau tahun 2026.
Prediksi ini merupakan percepatan dari pernyataan-pernyataan Musk sebelumnya. Ia menilai bahwa kemajuan teknologi AI saat ini melaju jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak ahli sebelumnya.
Akselerasi Teknologi dan Ketersediaan Perangkat Keras
Musk menjelaskan bahwa faktor utama di balik lompatan kecerdasan ini adalah ketersediaan perangkat keras yang semakin masif, terutama cip pemrosesan grafis (GPU) kelas atas yang menjadi “otak” dari pelatihan model AI. Menurutnya, meskipun sempat ada kendala pasokan cip tahun lalu, kini industri mulai mengejar ketertinggalan tersebut.
“Jika Anda mendefinisikan AGI (Artificial General Intelligence) sebagai (kemampuan) lebih pintar dari manusia terpintar, saya pikir itu mungkin akan terjadi tahun depan, atau dalam waktu dua tahun,” ujar Musk dalam diskusi tersebut.
Grok dan Persaingan Global
Musk juga memberikan pembaruan terkait pengembangan Grok, asisten AI milik perusahaannya, xAI. Ia mengklaim bahwa versi terbaru Grok yang tengah dilatih saat ini akan memiliki kemampuan yang jauh melampaui standar industri saat ini, bahkan bersaing ketat dengan model-model populer seperti GPT-4 milik OpenAI.
Namun, ia juga memberikan catatan mengenai tantangan besar yang dihadapi industri: kebutuhan energi listrik yang sangat masif. Musk memprediksi bahwa setelah masalah pasokan cip teratasi, tantangan berikutnya bagi perkembangan AI adalah ketersediaan daya listrik yang stabil dan besar dalam beberapa tahun ke depan.
Peringatan Akan Risiko Keamanan
Meski optimis dengan kemajuan teknologi, Musk tetap tidak melepaskan statusnya sebagai salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan risiko AI. Ia kembali menekankan pentingnya regulasi keamanan untuk memastikan AI tetap sejalan dengan kepentingan manusia.
Bagi Musk, keberadaan AI yang lebih pintar dari manusia adalah pedang bermata dua: potensi untuk memecahkan masalah besar dunia, namun sekaligus ancaman eksistensial jika tidak dikendalikan dengan benar. Prediksi terbaru ini pun langsung memicu debat hangat di kalangan komunitas saintis dan pengamat teknologi global mengenai seberapa dekat kita sebenarnya dengan titik singularitas teknologi.












